Saat Lynx dan Yun Qing menoleh ke arah wanita yang memanggil mereka, ekspresi Yun Qing tampak ceria, namun berbeda dengan Lynx. Wajahnya terlihat pucat, namun tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ia terdiam sejenak, seolah terhenti oleh sesuatu yang tak terlihat.

"Li Wei, kamu di sini juga? Bagaimana kabar kakakmu? Sudah sembuh?" tanya Jelita dengan senyum yang hangat, menggenggam tangan Li Wei dengan penuh keakraban. Sejak meninggalkan Desa Lianhua, Li Wei adalah teman pertama yang benar-benar dekat dengan Jelita.

Selain kecantikannya yang memikat, dari pertemuan pertama mereka sepanjang perjalanan, Jelita bisa menilai Li Wei adalah seorang wanita yang cerdas dan penuh inisiatif. Ia selalu ingin tahu dan tidak takut mencari kebenaran, bahkan dalam situasi yang rumit. Li Wei juga tidak memperhatikan perbedaan status sosial mereka, meskipun dia adalah anak walikota. Jelita sudah mendapatkan penjelasan dari Lynx, jika walikota mirip dengan kepala suku dipulau tempat mereka sebelumnya.

Namun, yang paling mencolok dari Li Wei adalah kemampuannya untuk membuat situasi terasa lebih ringan dengan komentar tajamnya yang sarkastik dan humoris. Ia tidak pernah ragu menggunakan humor untuk menutupi perasaannya, bahkan ketika ia merasa cemas atau terluka.

Li Wei juga seorang pemberani, siap mengambil risiko untuk membantu teman-temannya, tak peduli seberapa besar tantangannya seperti saat kejadian melawan Gao Zhen, dia tidak mau melarikan diri sendiri jika tidak terpaksa harus mengantarkan obat untuk kakaknya.

Gaya bicaranya selalu cepat dan penuh semangat. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti energi yang tak terhentikan, selalu antusias dan penuh gairah. Li Wei tidak suka bertele-tele dan lebih memilih berbicara langsung ke inti masalah.

Di sisi lain, ekspresi Huo Tang berubah menjadi masam. Ia tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa Li Wei, anak kesayangan Walikota Huoling, bisa begitu akrab dengan orang-orang yang dianggapnya tidak memiliki kedudukan atau kekayaan. "Tunggu... mungkin mereka hanya sesama wanita, dan Li Wei tertarik pada kecantikan mereka yang serupa?" pikir Huo Tang dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meskipun hatinya ragu.

"Li Wei, kamu mengenal mereka?" tanya Huo Tang dengan nada hati-hati, meskipun ekspresinya menunjukkan rasa penasaran yang tajam. Ia tahu betul betapa Li Wei bisa membuatnya pusing dengan sifatnya yang terlalu blak-blakan dan terkadang menantang.

"Kamu, Huo Tang! Apa yang kamu lakukan di sini?" Li Wei menatapnya dengan tajam, suaranya ketus dan penuh ketidaksabaran. Ia tahu betul sifat lelaki itu, seseorang yang gemar mempermainkan wanita demi kesenangannya sendiri. "Awas kalau kau berani menyentuh temanku," lanjutnya, nada suaranya mengandung ancaman yang jelas.

"Tentu tidak, tentu tidak." Huo Tang segera mengangkat tangannya seolah tak bersalah, memasang senyum pura-pura. "Aku hanya ingin menyapa mereka. Apalagi setelah aku tahu mereka adalah temanmu."

Dalam hatinya, ia mendengus kesal. "Kali ini aku akan melepaskan kalian... tapi lihat saja nanti," batinnya dengan penuh niat jahat. Ia bersiap pergi, ingin menghindari Li Wei sebelum suasana semakin tidak menguntungkan baginya.

Namun, langkahnya tiba-tiba tertahan.

Seseorang yang berdiri di dekatnya, membuatnya seketika terdiam.

"Xiao Ling, kenapa kamu?" tanya Li Wei saat dia menoleh. Li Wei baru menyadari ekspresi Lynx yang tampak aneh. Yun Qing juga ikut menatapnya dengan heran.

Lynx terdiam, wajahnya tetap pucat. Namun, yang menarik perhatian bukanlah Huo Tang ataupun Li Wei. Pandangannya lurus ke depan, tapi bukan ke arah mereka… melainkan seseorang yang berdiri di belakang Li Wei.

Li Wei dan Yun Qing mengikuti arah tatapan Lynx.

Di sana, berdiri lima wanita yang mengenakan pakaian yang sama dengan Li Wei, seragam putih bersih dengan hiasan sulaman perak di bagian lengan dan bahu, memperlihatkan status mereka sebagai murid dari sekte besar. Mereka berdiri dengan postur tegap dan penuh disiplin, menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar murid biasa.

Rambut panjang mereka terikat rapi dengan hiasan giok yang berkilauan di bawah cahaya senja, sesekali berayun lembut mengikuti angin yang berembus. Setiap dari mereka membawa pedang ramping yang tergantung di pinggang, sarung pedang mereka dihiasi ukiran naga halus yang menandakan keluhuran ilmu pedang mereka. Dari cara mereka berdiri dan memandang sekeliling, jelas bahwa mereka bukan hanya sekadar murid biasa, tetapi juga para murid inti yang membawa kebanggaan Sekte Api Langit.

Di antara mereka, seorang wanita berdiri sedikit di depan, seolah menjadi pemimpin kelompok itu. Tatapannya tenang namun tajam, membawa wibawa yang sulit diabaikan. Sekte Api Langit bukanlah sekte sembarangan. Mereka terkenal dengan keahlian dalam seni pedang dan penguasaan teknik api yang luar biasa. Hanya murid-murid berbakat yang bisa masuk ke dalamnya, dan mereka yang mengenakan seragam ini membawa nama besar sekte di setiap langkah mereka.

Bagi mereka yang mengenal dunia kultivasi, melihat lima murid Sekte Api Langit muncul di satu tempat bukanlah pemandangan yang bisa diremehkan.

Li Wei terkekeh melihat ekspresi kosong Lynx, lalu menyenggol bahunya. "Oi, dasar orang kampung! Sampai segitunya melihat wanita cantik?" katanya dengan nada menggoda, sambil melambaikan tangannya di depan wajah Lynx. "Hei, sadar... sadar..."

Namun, saat ia menoleh ke Yun Qing, ia malah menemukan ekspresi serupa. "Tunggu, Yun Qing? Kenapa kamu juga begitu?"

Kemudian, suara Lynx terdengar, lirih, seperti gumaman yang tertahan.

"Leena..."

Jantung jelita berdegup kencang. "Li Wei, siapa dia?" tanyanya, mencoba memastikan sesuatu yang masih sukar dipercaya.

Li Wei mengerutkan kening, merasa semakin bingung dengan reaksi keduanya. "Dia? Namanya Ling Mei. Kakak seperguruanku. Dia ditugaskan untuk menjemputku kembali ke sekte."

Belum sempat mereka mencerna keadaan, tiba-tiba suara Huo Tao terdengar dari belakang.

"Nona cantik, bolehkah kita berkenalan?" Nadanya terdengar percaya diri, bahkan terkesan angkuh. "Aku Huo Tao, keturunan langsung keluarga Huo, penguasa pasar ini. Jika kau ingin mencari sesuatu, aku bisa menemanimu berkeliling dan mendapatkannya untukmu."

"Oh, atau mungkin kau lebih suka duduk dan menikmati secangkir teh bersamaku? Aku tahu tempat terbaik di kota ini. Akan sangat disayangkan jika seorang wanita seindah dirimu harus berjalan tanpa pemandu yang baik," tambahnya dengan nada menggoda, sembari melirik Ling Mei dari atas ke bawah dengan tatapan menilai.

"gadis ini lebih cantik dari gadis yang bersama pemuda miskin itu. Tetapi aku menginginkan mereka berdua. Bagaimanapun caranya, aku tetap harus mendapatkan mereka berdua." batinnya dengan tekad kuat.

Mendengar itu, Li Wei langsung memutar tubuhnya dan menatapnya dengan tajam. "Huo Tao?! Kau belum pergi juga?!" serunya dengan nada tinggi. "Pertama kau sudah mengganggu temanku, dan sekarang kau berani menggoda kakak seperguruanku?"

"Aku hanya ingin menyapa kakak seperguruanmu..." Huo Tao berusaha membela diri, tapi Li Wei langsung memotongnya dengan suara penuh ejekan.

"Hah! Alasan!" Li Wei melipat tangannya di depan dada. "Siapa yang tidak tahu nama besar Tuan Muda Huo Tao? Terkenal di seluruh Kota Huoling, tentu saja! Tapi bukan karena prestasi, melainkan karena kelakuan busuknya yang selalu mengejar wanita!"

"Kau merendahkanku, Li Wei. Aku hanya mengagumi kecantikan, dan sebagai pria yang murah hati, tentu aku ingin berbagi waktuku dengan mereka," ucap Huo Tao dengan santai, meskipun senyum di wajahnya terlihat semakin lebar dan penuh kesombongan. Karena kebiasaannya bermulut manis dengan para wanita, dia berani memuji kecantikan seorang wanita secara terang-terangan.

"Bagaimana, Nona Ling Mei? Aku yakin kau pasti lelah setelah perjalanan jauh. Menghabiskan sore bersamaku tentu akan lebih menyenangkan daripada terus mendengar ocehan Li Wei." Lanjut Huo Tao saat melihat wanita didepannya hanya diam dengan sorot mata tajam memandangnya.

Li Wei mendengus, matanya menyipit penuh ejekan. "Lucu sekali. Kalau kau memang ingin berbagi waktumu, kenapa tidak pergi ke rumah bordil saja? Aku yakin mereka akan lebih menghargai kemurahan hatimu."

Orang-orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, tatapan mereka dipenuhi rasa geli sekaligus penghinaan terhadap Huo Tao.

Sementara Lynx tetap tidak memalingkan pandangan dari wanita didepannya.

